Ramadhan Bulan yang Paling Mulia dan Istimewa

Ramadhan Bulan yang Paling Mulia dan Istimewa.

Oleh : H. Sa’dulloh, SQ., M.MPd.
(Ketua PCNU Sumedang)

Bulan Ramadhan ialah bulan penuh berkah, melimpah rahmat, dan penuh ampunan. Allah Swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang paling mulia dan istimewa.

Karenanya, umat Islam sangat bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Mereka menyambutnya dengan penuh keimanan sebab berpuasa Ramadhan suatu kewajiban dan termasuk rukun Islam yang ke-4.

Allah berfirman:

ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون.

Artinya,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.

Umat Islam juga menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang peningkatan iman dan taqwa kepada Allah Swt dengan berbagai macam ibadah untuk meraih keutamaan-keutamaan di bulan tersebut.

Setiap muslim janganlah melewati kesempatan ini. Isilah Ramadhan untuk menambah aset kebaikan diri kita masing-masing dengan menunaikan sholat tarawih, bershodaqah, berdzikir dan memperbanyak baca Al-Qur’an karena di bulan ini diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Maka tiada musibah yang lebih besar dari perginya bulan Ramadhan. Jika langit dan bumi saja menangis untuk umat Nabi Muhammad, maka lebih-lebih kita harus menangis dan menyesal karena terputusnya segala karunia dan kemuliaan serta kebajikan-kebajikan yang terkandung dalam bulan Ramadhan.

Seorang yang bijaksana harus mengetahui kebesaran dan kemuliaan bulan Ramadhan sambil menjaga dan membersihkan diri, karena tidak ada jaminan apakah kita akan berjumpa dengan Ramadhan yang akan datang atau tidak, dan kita harus mewaspadai dari sifat-sifat yang akan mengurangi kualitas ibadah puasa kita yang mengakibatkan kurangnya pahala atau sirna sama sekali.

Oleh karena itu, jahuilah ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa kita, bahkan menurut sebagian ulama dapat membatalkan puasa.

Kita perlu mengoptimalkan semangat ibadah dalam Ramadhan ini, tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya’ dan ujub.

Misalnya menulis di media sosial terkait ibadah yang kita jalani. Meskipun hal tersebut tidak dilarang, tetapi menutup pintu riya’ dan ujub jauh lebih baik. Semoga Allah Swt memudahkan kita semua mendapatkan ampunan-Nya di bulan yang mulia ini.

Short URL: http://www.pcnusumedang.or.id/?p=1254

Posted by on Mei 20 2018. Filed under Artikel, Editorial, Fiqh NU, Gallery, Headlines, Indeks. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Photo Gallery

120x600 ad code [Inner pages]
Masuk | Distributed by Tutorial Blog