Surga yang dirindukanpun Merindu!

Oleh : Ade Aam Khoeruman, S.Sos.I., M.Ag.
(Ketua LD NU Sumedang)

Pintu surga terbuka selama bulan Ramadhan, dan pintu neraka terkunci tanpa terkecuali. Itulah kalimat yang sering Kita dengar dari para Penceramah dan pengajar agama yang bersumber dari hadits Nabi. Siapa yang tak mau masuk surga? Semua orang pastinya menginginkan hadir pada tempat yang menjadi dambaan tersebut walaupun mungkin imajinasi tentang itu akan sangat berbeda tergantung latar belakang keilmuan, keyakinan ataupun ekpektasi yang diharapkan. Dalam konsep Islam, surga menjadi bagian janji Tuhan yang termaktub dalam Kitab suci dan dawuh Sang Nabi. Surga menjadi bagian konsep eskatologis dalam Islam yang senantiasa disandingkan dengan Neraka dengan persandingan yang kontradikti, Surga yang mengagumkan dan neraka yang mengerikan.

Dalam konsep Tauhid Ahlussunnah wal jama’ah disebutkan istilah wa’ad dan wa’id. Wa’ad adalah janji Alloh SWT kepada orang orang yang bertakwa, sementara wa’id adalah ancaman Alloh pada Orang orang yang durhaka. Saat surga menjadi wa’ad yang akan terealisasi, maka neraka menjadi wa’id yang akan terbukti. Pandangan konsep Tauhid tersebut berlanjut pada sebuah statment bahwa orang masuk surga karena Rahmat Alloh SWT dan masuk neraka karena keadilan Alloh SWT. Maka surga tidak akan didapat hanya dengan menukarkan amal dengan kenikmatan surga itu sendiri. Lalu dimana posisi amal? Amal sebagai alat penjemput Rohmat serta indikator seseorang pantas atau tidak mendapatkan karunia Alloh dalam bentuk surga.

Dalam keyakinan seperti itu, demi surga yang dirindukan orang rela berbuat apapun selama dalam koridor perintah Agama. Semua orang yang punya obsesi kekal di kehidupan akhirat dalam keadaan bahagia berlomba lomba melaksanakan kebaikan dan meminimalkan keburukan atau dosa. Sedemikian besarnya keinginan masuk surga, sampai seorang pendosapun terus berharap dimasukan kedalam surga. Sya’ir Abu Nawas yang seringkali dinadzomkan di masjid, musholla atau langgar sepertinya begitu mewakili suara hati para Pendosa yang merindukan surga. Nun gusti sim abdi sanes ahli surga, namung henteu kiat nandangan naraka {Wahai Tuhanku, Aku bukan orang yang pantas masuk surga, tapi apabila masuk neraka tidak akan mampu}. Ini bukti bahwa surga begitu dirindukan.

Alangkah indahnya apabila kondisi itu berbalik, yakni sat surga merindukan untuk diisi oleh Penghuninya. Mungkinkah itu? Sangat mungkin. Ini bukan dunia terbalik, tapi bagian dari konsep eskatologis. Surgapun Dalam beberapa keadaan senantiasa merindukan kalangan tertentu masuk ke dalamnya, sebagaimana pula dia tidak menginginkan kalangan tertentu masuk ke dalamnya seperti halnya orang yang sombong, pelit atau dayus.

Siapakah orang yang bahagia dan istimewa tersebut sehingga begitu dirindukan surga? Jawabannya ada pada dawuh Rosululloh SAW : “Surga rindu pada empat golongan manusia yaitu Orang yang membaca al qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang memberi makan pada orang yang lapar serta orang orang yang shaum di bulan Ramadhan”. Keempat golongan manusia ini akan kita temui dibulan Ramadhan yang mulia ini.
Pertama, orang yang membaca al Qur’an. Al Qur’an adalah Kitab yang begitu istimewa yang dijadikan pedoman milyaran manusia. Dikagumi penganutnya dan diakui oleh pembencinya sekalipun. HAR Gibb, seorang Orientalis kenamaan menyebutkan bahwa tidak ada suara yang begitu nyaring selama empat belas abad yang begitu nyaring selain daripada al Qur’an. Ketika Al qur’an dibaca akan menjadi pahala, baik itu difahami ataupun tidak. Terdapat sebuah hadits Rosululloh SAW yang diriwayatkan oleh Abu Umamah, ia berkata: “ aku mendengar Rosululloh SAW bersabda : bacalah al Qur’an, sebab dia akan menjadi penolong bagi pembacanya di hari Kiamat “ (HR.Muslim).

Di bulan Ramadhan, begitu marak orang tadarusan al Qur’an melebihi kebiasaan sehari hari. Semua seolah berlomba untuk mengkhatamkan al Qur’an yang begitu diidamkan karena akan disambut oleh 60.000 malaikat yang mendoakan orang yang mengkhatamkan al Qur’an. Imam Syafi’i bahkan memberikan satu kebiasaan yang mengagumkan ketika di luar Ramadhan beliau sanggup mengkhatamkan satu kali dan saat bulan Ramadhan mampu mengkhatamkan dua kali saat siang dan malam hari, subhaanalloh!.

Kedua, orang yang menjaga lisan. Di bulan Ramadhan idealnya seseorang yang berpuasa juga berpuasa dalam bicara yang tidak bermanfaat. Menjaga lisan menjadi bagian yang penting untuk memastikan dia dapat vtiket ke surga ….. jagalah diantara dua pipimu dan dua kakimu! Itulah pernyataan Rosululloh SAW saat ditanya tentang syarat masuk surga. Dua antara dua pipi adalah lisan sedangkan antara dua kaki adalah farji (kemaluan). Menjaga lisan akan sangat istimewa manakala kita hidup didunia yang akan berimbas pada kehidupan akhirat. Kita hendaknya menghindari bohong, ghibah, adu domba dan sumpah palsu. Dibulan Romadhon ini menjadi kelebihan tersendiri bahkan tidak sekedar menjaga lisan tapi membuat lisan kita berpuasa atau diam. Karena dengan diam akan lebih jelas kita mendengar suara hati kita.

Ketiga, orang yang memberikan makanan pada orang yang lapar. Golongan yang ketiga ini begitu dirindukan oleh surga karena dari sudut pandang agama ataupun kemanusiaan mereka adalah sosok manusia yang istimewa. Bagaimana tidak, memberi makan kepada orang orang yang lapar adalah bagian dari pembuktian empati yang mendalam. Tidak sekedar mengungkapkan simpati yang merupakan solidaritas lisan. Mereka mapu merasakan dengan pembuktian yang nyata. Rosululloh SAW bersabda : “ orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang memberikan makanan”. Dalam riwayat lain disebutkan : “barangsiapa yang memberikan makanan kepada orang yang berbuka puasa maka pahalanya sama seperti orang yang berpuasa tersebut”.

Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Terdapat sebuah keistimewaan yang begitu menarik , bahwa orang yang berpuasa di alam akherat kelak akan mendapatkan fasilitas khusus yakni masuk ke surga melalui pintu khusus. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar Royyan. Pada hari Kiamat orang orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan jika mereka sudah masuk pintu tesebut ditutup dan tidak ada seorang lagipun yang masuk pintu tersebut. (HR Bukhori dan Muslim).

Dari tulisan diatas dapat kita fahami bahwa kita adalah orang orang yang begitu merindukan surga tapi surga bisa menjadi sosok Perindu bagi manusia manusia terpilih. Bisakah kita menjadi manusia yang dirindukan surga? Wallohu a’lam bishowab.

Short URL: http://www.pcnusumedang.or.id/?p=1265

Posted by on Jun 4 2018. Filed under Akidah NU, Artikel, Headlines, Indeks. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Photo Gallery

120x600 ad code [Inner pages]
Masuk | Distributed by Tutorial Blog